BAB I

PENDAHULUAN

 

Di dalam bahasa Indonesia terdapat berbagai macam ketatabahasaan seperti fonologi, ejaan yang disempurnakan, morfologi, dan sintaksis. Yang akan dibahas kali ini adalah Ejaan yang disempurnakan.

Ejaan ialah pelambangan fonem dengan huruf. Ejaan yang disempurnakan diresmikan tahun 1972. Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia A sampai Z. huruf yang melambangkan vokal terdiri atas a, i, u, e, o. Huruf konsonan yaitu yang tidak termasuk dari huruf vokal di atas. Ada banyak ejaan yang pernah berlaku yakni Ejaan Soewandi, Ejaan Priyono, Ejaan Baru Bahasa Indonesia, dan yang terakhir Ejaan Yang Disempurnakan.

Ejaan yang disempurnakan tahun 1972 edisi pertama telah mengalami beberapa perubahan pada tahun 1987. Edisi kedua berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nomor 0543a/U/1987, tanggal 9 September 1987, dicermatkan pada Rapat Kerja ke-30 Panitia Kerja Sama Kebahasaan di Tugu, tanggal 16 sampai dengan 20 Desember 1990 dan diterima pada siding ke-30 Majelis Bahasa Brunei Darussalam – Indonesia – Malaysia di Bandar Seri Bengawan, tanggal 4 sampai dengan 6 Maret 1991.

Pembahasan pada makalah ini yaitu tentang pemakaian huruf capital atau huruf besar, penulisan kata depan (di, ke), penulisan kata ganti (ku, mu, kau) dan penulisan partikel (pun, per). Dengan adanya pembahsan materi ini diharapkan dapat menambah pengetahan kita akan khasanah bahasa Indonesia khususnya pada materi Ejaan Yang Disempurnakan ini.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Pemakaian Huruf Kapital atau Huruf Besar

Penggunaan huruf kapital atau huruf besar yaitu pada huruf pertama:

1.      Pada awal kalimat.

Pada hari minggu kuturut ayah ke kota.

2.      Pada petikan langsung.

Ayah berkata, “Berapa nilai rapormu?”.

3.      Ungkapan yang berhubungan dengan hal – hal keagamaan, kitab suci, nama Tuhan, dan termasuk kata ganti nama Tuhan.

Allah, Islam, Al Qur’an, Kristen.

4.      Pada gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.

Nabi Muhammad Saw, Raden Mas Margono, Daeng Gassing, Haji Sobri.

5.      Pada nama jabatan dan pangkat, yang diikuti nama orang.

Presiden SBY, Jenderal Soeharto.

Nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang ditulis dengan huruf kecil.

6.      Nama orang.

Sri, Risna, Unnul, Insana, Ayu.

7.      Nama bangsa, suku, dan bahasa.

Bangsa Indonesia, suku Makassar, bahasa Indonesia.

8.      Nama tahun, bulan, hari, hari raya dan peristiwa sejarah.

Tahun Masehi, September, Senin, hari Lebaran, Perang Dunia I.

9.      Nama khas dalam geografi.

Teluk Bone, Makassar, Danau Toba.

Huruf capital tidak dipakai bila tidak diikuti namanya.

10.  Nama badan, lembaga pemerintah, dan ketatanegaraan serta dokumen resmi.

BUMN, KPK, DikNas.

11.  Semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti: di, ke, dari, yang, untuk, yang tidak terletak pada posisi awal.

Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.

12.  Pada singkatan nama, gelar, pangkat, dan sapaan.

Prof., Mayjen.

13.  Kata penunjuk hukum kekerabatan (bapak, ibu, saudara, kakak, adik, paman, bibi, nenek, dan kakek) yang juga dipakai kata ganti atau sapaan seperti Anda.

B. Penulisan Kata Depan (di, ke)

di dan ke merupakan kata depan dalam bahasa Indonesia. Terkadang juga kedua kata depan tersebut disamakan dengan prefiks di- dan ke- meskipun keduanya sangat berbeda. Di dan ke sebagai kata depan yang menunjukkan tempat ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya, misalnya: di pantai, ke sekolah. Sedangkan prefiks di- dan ke- yang menunjukkan suatu proses atau kejadian ditulis secara serangkai, misalnya: diterima, kekasih.

Yang tergolong kata depan ialah di, ke, dari, daripada, kepada. Penulisan di, ke, dipisahkan dengan kata yang mengikutinya. Kecuali penulisan ke dan dari yang dianggap sudah kental dan merupakan bentuk satu kata. Misalnya, bentuk kepada dan daripada.
Contoh:
Bukuku kauletakkan di mana?
Hari ini saya ke kota.
Kursi ini di buat dari kayu jati.
Catatan:
Perhatikan beberapa penulisan di bawah ini dengan cermat!

keluar (satu kata) ke dirangkaikan.
kemari (satu kata) ke dirangkaikan.
Perhatikan pula pemakaian beberapa bentuk kata depan yang sudah mengalami proses morfologis di bawah ini:
Nasehatnya jangan dikesampingkan.
Kemarikan tasku di meja itu.
Jika bentuk kata depan ke dan di bisa saling dipertukarkan maka penulisannya dipisahkan dari kata yang mengikutinya.
Contoh:

ke sana dapat diganti di sana.
ke sini dapat diganti di sini.
ke atas dapat diganti di atas.
Bandingkan pula penulisan ke, jika diikuti luar:
Ayahnya sedang keluar.
Kakaknya sedang keluar kota.
Pamannya ke luar negeri.
Astronot terbang ke luar angkasa.
Kesimpulannya:

Keluar (merupakan satu kata yang mempunyai lawan kata masuk).
ke luar kota, ke luar negeri, dan ke luar daerah (ke + frse yang salah satu unsurnya ialah “luar”).
Bukan ke + luar, yang benar ialah:

ke + luar kota
ke + luar negeri
ke + luar daerah

 

C. Penulisan Kata Ganti (ku, mu, kau)

Kata ganti dalam bahasa Indonesia antara lain adalah –ku, –mu, kau. Penulisan kata ganti ini harus ditulis serangkai dengan kata yang mendahului atau yang mengikutinya. Kata ganti ku dan kau ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; ku dan mu ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.Contoh:

-          Ikan ini kubeli di pasar dengan menggunakan ibuku.

-          Kemarin saya meminjam pulpenmu.

-          Dimana kaubeli baju ini?.

Ketiga morfem tersebut merupakan kata ganti orang. Morfem –ku dan –mu merupakan kata ganti orang pertama dan kedua dalam bentuk ringkasnya.

Ku merupakan bentuk ringkas dari ‘aku’ dan merupakan kata ganti orang pertama tunggal. Mu merupakan bentuk ringkas dari ‘kamu’, merupakan pengganti orang kedua tunggal / jamak.

Akhiran –ku, memiliki arti / fungsi sebagai kata ganti orang pertama tunggal.

Akhiran –mu, memiliki arti / fungsi sebagai kata ganti orang kedua tunggal.

D. Penulisan Partikel (pun, per)

Penulisan partikel dalam bahasa Indonesia ada dua macam. Ada partikel yang ditulis terpisah dan ada yang ditulis serangkai. Partikel yang ditulis terpisah seperti partikel per yang semakna dengan demi dan partikel pun yang berarti juga.

Penulisan partikel “per” yang berarti “mulai”, “demi”, dan “tiap-tiap” ditulis terpisah dari bagian-bagian kalimat yang mengikutinya atau yang mendahuluinya. Namun, partikel per pada bilangan pecahan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
Contoh:
Mereka meninggalkan ruangan satu per satu.
Harga kain itu Rp. 4.000,00 per meter.

Partikel “pun” ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Contoh:
Ke mana pun perginya, dicarinya juga.
Apa pun yang terjadi ia tetap pergi.
Satu kali pun ia tak pernah gagal.

Catatan:
Partikel pun yang dianggap padu benar dengan kata yang mendahuluinya ditulis serangkai.
Contoh:
bagaimanapun,
walaupun,
meskipun,
sekalipun,
ataupun,
maupun, dll.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

 

 

A.    Kesimpulan

Dari pembahasan materi di atas diharapkan dapat memperluas wawasan kita akan khasanah bahasa Indonesia. Agar kita lebih mengenal lagi akan ketatabahasaan dan bisa menjaga kelestariannya dengan mempraktekkan langsung bagaimana penggunaan tata bahasa yang tepat, baik dan benar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Penulisan Partikel dalam Bahasa Indonesia « EYD di Layar Anda.mht

Pembentukan Instilah_Bab III – Wikisource.mht

Primagama Gatsu Denpasar » penulisan kata.mht

resume « Ariefsayangbunda’s Blog.mht

Salam, Rosdiah. 2006. Bahasa dan Sastra Indonesia. Makassar

Tiram untuk Mutiara – 2. Penulisan Kata (EYD) Bag. 2.mht