just keep faith (cute pic)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

buku-buku sd

bahasa indonesia 3

bahasa indonesia 5

bahasa indonesia 6

walpaper part1

aku hobi bgt sama walpaper bgs buat dekstop soalnya biasa bosan klo muka sendiri yg dijadiin walpaper dkstop makanya, aku suka ngumpulin klo ada yg bagus…nah skrg aku mo share buat yg jg punya hobi kaya’aku…(mana mungkin ada y…)

ini kali ya yg namanya black forest…hehehe

just keep faith

seneng banget deh liat foto-foto tvxq waktu masih berlima….soalnya mereka keliatan ‘kompak’ bgt!!!

liat aja…

 

 

 

 

 

 

 

masalah antara beberapa member tvxq dgn manajemen mereka  memang sangat disayangkan, well kita jg g bisa nyalahin siapa yg benar ato siapa yg salah tp dengan munculnya masalah ini sudah buat personel tvxq menjadi sedih n yg paling utama tentu aja semua cassiopeia yg sdh mendukung tvxq dari awal karir sampe sekarang….walau keliatan mustahil tp aku berharap bgt mereka bisa ‘nyatu’ lg sebagai raising god from east….♥♥

BMC (bilingual meeting club)

Sebagai mahasiswa tentunya kita harus terus mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki caranya ada banyak dan bervariasi bisa melalui organisasi atau mengikuti seminar-seminar yg banyak diadakan. Nah kebetulan dijurusan PGSD UNM ada satu jenis wadah untuk mengembangkan diri namanya itu BMC singkatan dari Bilingual Meeting Club. BMC ini sebenarnya adalah meeting klub yang dibentuk dengan tujuan utama untuk memperlancar speaking English bagi pesertanya yang tidak lain adalah mahasiswa-mahasisswa UNM PGSD khususnya kelas bilingual namun, tidak menutup kemungkinan bagi yang berminat untuk mengikuti BMC untuk mendaftarkan dirinya sebab, BMC ini terbuka untuk umum.

Kegiatan-kegiatan BMC antara lain diskusi mengenai topik-topik yang menarik tentu saja dengan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi dalam forum. Selain itu di BMC juga bisa ditemukan kegiatan-kegiatan menarik lainnya seperti games-games, debat, dsb. Walaupun masih dalam tahap pengembangan tetapi BMC ini bisa mnjadi tempat yang menyenangkan untuk menambah wawasan dan memperlancar speaking kita..

imbuhan

Imbuhan (afiks) adalah suatu bentuk linguistik yang di dalam suatu kata merupakan unsur langsung, yang bukan kata dan bukan pokok kata. Melainkan mengubah leksem menjadi kata kompleks, artinya mengubah leksem itu menjadi kata yang mempunyai arti lebih lengkap, seperti mempunyai subjek, predikat dan objek. Sedangkan prosesnya sendiri di sebut afiksasi (affixation).
Imbuhan (afiks) adalah Bentuk (morfem) terikat yang dipakai untuk menurunkan kata.[1]
Imbuhan (afiks) dibahas dalam bidang ilmu Morfologi. Sedangkan definisi Morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata. Dalam definisi lain di katakan bahwa Morfologi merupakan salah satu cabang ilmu bahasa yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik. Contoh: kata Sepeda Motor terdiri dari dua morfem, yaitu morfem Sepeda dan morfem Motor, yang masing-masing merupakan kata.
Kata yang dibentuk dari kata lain pada umumnya mengalami tambahan bentuk pada kata dasarnya. Kata seperti bertiga, ancaman, gerigi, dan berdatangan terdiri atas tiga kata dasar, yaitu tiga, ancam, gigi dan datang yang masing-masing dilengkapi dengan bentuk yang berwujud ber-, -an, -er-, dan ber-an.

Perubahan-perubahan bentuk kata menyebabkan adanya perubahan golongan dan arti kata. Golongan kata Sepeda tidak sama dengan golongan kata bersepeda. Golongan Sepeda merupakan golongan kata nominal, sedangkan kata bersepeda termasuk golongan kata verbal. Kata rumah dan kata jalan termasuk golongan kata nominal, sedangkan kata berumah dan kata berjalan termasuk golongan kata verbal.
Dibidang arti, kata Sepeda, bersepeda, Sepeda-sepeda, dan Sepeda Motor, semuanya mempunyai arti yang berbeda-beda. Demikian pula kata Rumah, berumah, perumahan, rumah-rumahan, rumah-rumah, rumah sakit dan kata-kata jalan, berjalan, berjalan-jalan, perjalanan, menjalani, menjalankan dan jalan raya.
Perbedaan golongan dan arti kata-kata tersebut tidak lain disebabkan oleh perubahan bentuk kata. Karena itu, maka morfologi disamping bidangnya yang utama menyelidiki seluk-beluk kata, juga menyelidiki kemungkinan adanya perubahan golongan dan arti kata yang timbul sebagai akibat perubahan bentuk kata.[2]

Tiga macam proses morfologis, yaitu pertama, bergabungnya morfem bebas dengan morfem terikat disebut afiksasi. Kedua, Pengulangan morfem bebas disebut reduplikasi, dan ketiga, bergabungnya morfem bebas dengan morfem bebas disebut pemajemukan. Pada proses yang pertama menghasilkan kata berimbuhan, yang kedua menghasilkan kata ulang, dan yang ketiga menghasilkan kata majemuk.[3]

Pada umumnya imbuhan (afiks) hanya dikenal ada empat, yaitu awalan (prefiks), sisipan (infiks), akhiran (sufiks), awalan dan akhiran (konfiks). Dalam sumber lain disebutkan bahwa imbuhan (afiks) itu ada sembilan, yaitu prefiks, infiks, sufiks, simulfiks, konfiks, superfiks, interfiks, transfiks, dan kombinasi afiks.[4]

Syarat-syarat kata untuk dapat menjadi afiksasi, antara lain:
Kata afiks itu harus dapat ditempatkan pada bentuk-bentuk lain untuk membentuk kata atau pokok kata baru. Contoh: kata minuman, kata ini terdiri dari dua unsur langsung, yaitu kata minum yang di sebut bentuk bebas dan –an yang di sebut bentuk terikat. Makna ini di sebut makna afiks. Contoh kata yang lain seperti: kata timbangan, pikiran, satuan, gambaran, buatan, bungkusan.
Kata afiks itu merupakan bentuk terikat, tidak dapat berdiri sendiri dan secara gramatis (tertulis) selalu melekat pada bentuk lain. Contoh: kedua, kehendak, kekasih, ketua, artinya antara imbuhan ke- dan kata dua tidak dapat di pisahkan, karena apabila di pisahkan akan mempunyai arti yang berbeda. Demikian juga dengan kata kehendak, kekasih dan ketua. Berbeda halnya dengan bentuk di seperti pada kata di rumah, di pekarangan, di ruang, tidak dapat di golongkan afiks, karena sebenarnya bentuk itu secara gramatis mempinyai sifat bebas. Demikian halnya dengan bentuk ke seperti pada kata ke rumah, ke toko, ke kota , ini tidak dapat di golongkan afiks. Jadi, dalam afiks hanya dapat di bentuk apabila imbuhan itu dalam bentuk terikat.
Afiks tidak memiliki arti leksis, artinya tidak mempunyai pertalian arti karena kata itu berupa imbuhan. Sedangkan imbuhan itu dapat mempengaruhi arti kata itu sendiri. Contoh: bentuk –nya yang sudah tidak mempunyai pertalian arti dengan ia. Misalnya: rupanya, agaknya, termasuk golongan afiks, karena hubungannya dengan arti leksisnya sudah terputus.
Imbuhan itu dapat mengubah makna, jenis dan fungsi sebuah kata dasar atau bentuk dasar menjadi kata lain, yang fungsinya berbeda dengan kata dasar atau bentuk dasar.

Contoh: afiks baru: pembaruan → peng- an. Pada contoh ini terjadi perubahan bentuk imbuhan dari pem- an manjadi peng- an, hal ini terjadi karena pengaruh asimilasi bunyi. Kata belakang → keterbelakangan → terbelakang. Pada kata ini terjadi perubahan bentuk ke-an.

Macam-Macam Imbuhan (afiks)

Awalan (prefiks/ prefix)
Awalan (prefiks / prefix) adalah imbuhan yang terletak diawal kata. Proses awalan (prefiks) ini di sebut prefiksasi (prefixation). Berdasarkan dan pertumbuhan bahasa yang terjadi, maka awalan dalam bahasa indonesia dibagi menjadi dua macam, yaitu imbuhan asli dan imbuhan serapan, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing. Contoh awalan (prefix) yang berasal dari bahasa Indonesia . Kata ke-+ tua→ketua, artinya imbuhan ke- ditambah dengan kata tua, maka menjadi ketua. pe-+ tinju→petinju, ter- + dakwa→terdakwa, ber- + main→bermain, pra- + sejarah→prasejarah. Contoh awalan (prefix) yang berasal dari bahasa asing, yaitu bahasa inggris. Kata im-→improduktif, pre-→prehistori, ex-→ekspor, is→ isolasi.

Akhiran (sufiks/ sufix)
Akhiran (sufiks/ sufix) adalah imbuhan yang terletak di akhir kata. Dalam proses pembentukan kata ini tidak pernah mengalami perubahan bentuk. Proses pembentukannya di sebut safiksasi (suffixation). Contoh: -an + pikir→pikiran, -in + hadir→hadirin, -wan + karya→karyawan, -wati+karya→kryawati, -wi+ manusia→manusiawi. Semua akhiran ini di sebut sebagai akhiran untuk kata benda. Sedangkan akhiran yang berupa kata sifat, seperti: -if→aktif, sportif. -ik→magnetik, elektronik. -is→praktis, anarkis. -er→komplementer, parlementer. -wi→manusiawi, surgawi, duniwi. Kadang-kadang akhiran yang berupa kata sifat, ada yang berasal dari bahasa inggris dan ada yang berasal dari bahasa arab. Contoh: -al→formal, nasional. -iah→alamiah, batiniah. -i→abadi, alami, hewani, rohani. -nya→melihatnya, mendengarnya, mengalaminya. -in→muslimin, mu’minin. -at→muslimat, mu’minat. -us→politikus. -or→koruptor. -if→produktif, sportif.

Sisipan (infiks /infix)
Sisipan (infiks/ infix) adalah imbuhan yang terletak di dalam kata. Jenis imbuhan ini tidak produktif, artinya pemakaiannya terbatas hanya pada kata-kata tertentu. Jadi hampir tidak mengalami pertambahan secara umum. Sisipan terletak pada suku pertama kata dasarnya, yang memisahkan konsonan pertama dengan vokal pertama suku tersebut. Prosesnya imbuhan kata tersebut di sebut infixation. Imbuhan yang berupa sisipan seperti: -er-, -el-, -em- dan -in.

Sisipan ( infiks/ infix) dapat mempunyai makna, antara lain:
Menyatakan banyak dan bermacam-macam. Contohnya: tali→ temali, artinya terdapat bermaca-macam tali. gigi→gerigi, artinya terdapat bermacam gigi. sabut→serabut, artinya terdapat bermacam-macam sabut. kelut→kemelut, gunung→gemunung, artinya terdapat bermacam-macam gunung..
Menyatakan intensitas frekuentif, artinya menyatakan banyaknya waktu. Contoh: getar→gemetar, artinya menunjukan banyaknya waktu getar atau gerak suatu benda. guruh→gemuruh, artinya menujukan banyaknya waktu guruh. gertak→gemertak, artinya menujukan banyaknya waktu bunyi gertak. cicit→cericit, artinya menujukan banyaknya waktu bunyi cicit.
Menyatakan sesuatu yang mempunyai sifat seperti yang di sebut pada kata dasarnya. Contoh: kata kerja→kinerja, artinya sesuatu yang mempunyai sifat sama dengan kerja atau sesuatu sifat kegigihan. kuning→kemuning, artinya sesuatu yang mempunyai sifat sama dengan warna kuning. gilang→gemilang, artinya sesuatu yang mempunyai sifat sama dengan cerah. turun→temurun, artinya sesuatu yang mempunyai sifat terus-menerus. tunjuk→telunjuk, artinya sesuatu yang mempunyai sifat seperti tunjuk. Ada juga sisipan (infiks) yang di pengaruhi oleh bahasa jawa. Contoh: kata kesinambungan, yang merupakan kata dasar dari kata sinambung yang di sebut kata dasar sekunder. Sedangkan kata dasar primernya sambung mendapat sisipan –in- yang artinya menyatakan sifat terus-menerus. Sama halnya dengan istilah yang terdapat dalam bidang ekonomi, dalam proses imbuhan kata dasar juga terdapat istilah yang sama, tetapi mempunyai makna yang berbeda. Istilah itu adalah kata dasar primer, kata dasar sekunder, dan kata dasar tersier. Kata dasar primer adalah kata dasar yang berupa kata asal atau morfem dasar, yang di pakai sebagai kata dasar pertama dalam pembentukan kata jadian. Contoh: dengar→dengarkan→perdengarkan, artinya kata dengarkan merupakan kata dasar dari kata dengar yang mendapat akhiran – kan . Demikian juga dengan kata perdengarkan, berasal dari kata dasar dengar yang mendapat konfiks per-kan. Kata dasar primer, haruslah pada kata jadian yang sekurang-kurangnya di bentuk melalui dua tahap. Kata dasar sekunder adalah kata dasar yang berupa kata jadian yang di pakai sebagai dasar kedua dalam pembentukan kata jadian yang lebih kompleks. Contoh: dengarkan→perdengarkan, dipikir→dipikirkan, main→bermain-main, merata→meratakan. Kata dasar tersier adalah kata dasar yang berupa kata jadian yang di pakai sebagai dasar ketiga dalam pembentukan kata yang lebih kompleks. Contoh: kata guna→gunakan→pergunakan→mempergunakan. ingat→ingatkan→peringatkan→diperingatkan. harap→harapkan→diharapkan→diharapkannya. Sisipan (infiks/ infix) biasanya di bentuk dari kata benda (nomina) menjadi kata sifat (adjektifa). Adjektifa tingkat kuatif dengan prefiks se- dan tingkat superlatif dengan prefiks ter-. Hasil pengafiksan dengan infiks atau sisipan –em- pada nomina, adjektiva yang jumlahnya sangat terbatas.

Benda (nomina) →sifat (adjectifa)
Getar → gemetar
Guruh → gemuruh
Kilap → kemilap
Kilau → kemilau
Santan → semantan
Gerlap → gemerlap
Gilang → gemilang
Gilap → gemilap
Taram → temaram
Serbak → semerbak

Awalan dan Akhiran (konfiks /konfix)
Awalan dan akhiran (konfiks/ konfix) yaitu afiks yang terdiri dari dua unsur, satu di depan dari bentuk dasar dan satu di belakang bentuk dasar. Imbuhan yang dapat di kategorikan sebagai konfiks/ konfix, yaitu ke-an, pe-an, per-an dan ber-an. Proses imbuhan tersebut di sebut konfiksasi (konfiksasi/ konfixation). Contoh: ke-an: kehidupan, merupakan gabungan dari kata hidup yang kemudian mendapat imbuhan ke-an. kata kemauan, merupakan gabungan dari kata mau yang mendapat imbuhan ke-an. keterangan, katahuan, kepercayaan. Pe-an: pegunungan, merupakan gabungan dari kata dasar Gunung, kemudian mendapat imbuhan pe-an. pembelian, pendidikan, penggambaran, perdagangan. Semua pembentukan dari imbuhan ini berasal dari kata benda. Sedangkan yang terdiri dari kata sifat yang membentuk menjadi konfiks yaitu seperti: ke-an dan se-nya dengan bentuk dasar kata ulang (reduplikasi). Contoh: ke-an (dengan reduplikasi)→keingris-inggrisan, artinya seseorang atau suatu benda yang mempunyai sifat seperti inggris. kekanak-kanakkan, artinya seseorang yang mempunyai sifat seperti sifatnya kanak-kanak. Se-nya (dengan reduplikasi)→sebaik-baiknya, sepandai-pandainya. Sedangkan contoh yang lainnya dari konfix yaitu melakukan→me-kan, menduduki→me-I, memperlihatkan→memper-kan, kelihatan→ke-an, berdasarkan→ber-kan, keadilan→ke-an, permusuhan→per-an, permainan→per-an.

Simulfiks
Simulfiks yaitu afiks yang disamakan dengan ciri-ciri segmental yang dileburkan pada kata dasarnya. Biasanya di samakan dengan nasalisasi dari fonem pertama suatu bentuk dasar, dan fungsinya ialah membentuk verba atau memverbakan nomina, adjectiva atau kelas kata yang lain menjadi kata kerja. Contoh: kopi→ ngopi, soto→ nyoto, sate→ nyate, kebut→ ngebut, tulis→ nulis, gambar→ nggambar, tendang→ nendang.
Superfiks atau suprafiks
Superfiks atau suprafiks adalah imbuhan yang dimanifestasikan dengan ciri-ciri suprasegmental atau afiks yang berhubungan dengan morfem suprasegmental. Imbuhan superfiks dapat kita jumpai dalam bahasa-bahasa daerah, misalnya: bahasa Batak Toba, dalam bahasa Batak Toba terdapat tekanan morfemis. Contoh: kata ‘guru (nomina) dan kata ‘guru (adjektiva), antara kata ‘asom yang artinya jeruk kedudukan kata ini di sebut sebagai nomina dengan kata ‘asom yang artinya ‘asam kedudukan kata ini sebagai adjectifa. Sama halnya dalam bahasa Jawa, biasanya dengan peninggian vokal dapat di sebut sebagai ciri suprasegmental pada suku terakhir suatu adjectiva bersifat morfemis. Contoh: suwe→lama, wedi→takut. Dalam bahasa Toraja tekanan terletak pada suku kata terakhir dari suatu adjectifa yang di sertai velarisasi adalah proses sekunder, maka peristiwa itu boleh di anggap simulfiksasi. Contoh: biti→kecil, malampo→gemuk. Jadi, superfiks itu sama halnya dengan bahasa dialek yang hanya di miliki oleh daerah tertentu atau bahasa khas pada suatu daerah.


Interfiks

Interfiks yaitu suatu jenis infiks yang muncul di antara dua unsur. Dalam bahasa indonesia interfiks terdapat pada kata-kata bentukan baru, misalnya: interfiks –n-dan -o-. Contoh: gabungan antara kata indonesia dengan kata logi→indonesianologi, artinya kata indonesianologi merupakan gabungan antara dua unsur kata, yaitu kata indonesia dan logi. Gabungan antara kata jawa dengan kata logi→ jawanologi. Gabungan antara kata sosial dengan kata logos→ sosiologi. Gabungan antara kata psyko dengan kata logi→ psykologi. Dalam bahasa Jerman interfiks –n- muncul dalam gabungan auge ‘mata’ dengan kata arzt ‘dokter’→ augenazart ‘dokter mata’. Interfiks –es- muncul dalam gabungan jahr ‘tahun dan zeit ‘waktu’→ jahreszeit ‘musim’.

Transfiks
Transfiks yaitu jenis infiks yang menyebabkan kata dasar menjadi terbagi-bagi. Bentuk ini terdapat dalam bahasa-bahasa Afro-Asiatika, antara lain dalam bahasa arab; misalnya: akar ktb dapat di beri transfiks a-a, i-a, a-I, dan lain sebagainya. Menjadi katab ‘ia menulis’, kitab ‘buku’, katib ‘penulis’. Kata nshr dapat di beri transfiks a-a, maka menjadi nashara. Kata dzhb dapat di beri transfiks a-a, maka menjadi dzahaba.

Kombinasi afiks

Kombinasi afiks yaitu kombinasi dari dua afiks atau lebih yang bergabung dengan kata dasar, afiks ini hanya merupakan gabungan beberapa afiks yang mempunyai bentuk dan makna gramatikal tersendiri, muncul secara bersama pada bentuk dasar, tetapi berasal dari proses yang berlainan, dalam bahasa Indonesia kombinasi afiks, seperti: me-kan→mempertanyakan, yaitu sebuah bentuk dasar dengan kombinasi tiga afiks, yaitu mem-, per-, -kan. Dua prefiks, yaitu mem- dan per- dan satu sufiks – kan .

 

http://www.pdk-tebingtinggi.com

Arti Imbuhan

 

  • ber- : menambah prefiks ini membentuk verba (kata kerja) yang sering kali mengandung arti (makna) mempunyai atau memiliki sesuatu. Juga dapat menunjukkan keadaan atau kondisi atribut tertentu. Penggunaan prefiks ini lebih aktif berarti mempergunakan atau mengerjakan sesuatu. Fungsi utama prefiks “ber-” adalah untuk menunjukkan bahwa subyek kalimat merupakan orang atau sesuatu yang mengalami perbuatan dalam kalimat itu. Banyak verba dengan afiks “ber-” mempunyai kata yang sama dengan bentuk adjektiva dalam Bahasa Inggris. Sekitar satu dari tiap 44 kata yang tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki prefiks ini.
  • me-, meng-, menge-, meny-, mem- : menambah salah satu dari prefiks ini membentuk verba yang sering kali menunjukkan tindakan aktif di mana fokus utama dalam kalimat adalah pelaku, bukan tindakan atau obyek tindakan itu. Jenis prefiks ini sering kali mempunyai arti mengerjakan, menghasilkan, melakukan atau menjadi sesuatu. Prefiks ini yang paling umum digunakan dan sekitar satu dari tiap 13 kata yang tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki salah satu dari prefiks ini.
  • di- : Prefiks ini mempunyai pertalian yang sangat erat dengan prefiks “me-.” Prefiks “me-” menunjukkan tindakan aktif sedangkan prefiks “di-” menunjukkan tindakan pasif, di mana tindakan atau obyek tindakan adalah fokus utama dalam kalimat itu, dan bukan pelaku. Sekitar satu dari tiap 40 kata yang tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki prefiks ini.
  • pe- : Prefiks ini membentuk nomina yang menunjukkan orang atau agen yang melakukan perbuatan dalam kalimat. Kata dengan prefiks ini juga bisa memiliki makna alat yang dipakai untuk melakukan perbuatan yang tersebut pada kata dasarnya. Apabila kata dasarnya berupa kata sifat, maka kata yang dibentuk dengan prefiks ini memiliki sifat atau karakteristik kata dasarnya. Sekitar satu dari tiap 110 kata yang tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki prefiks ini.
  • ter- : Sekitar satu dari tiap 54 kata yang tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki prefiks ini. Penambahan afiks ini menimbulkan dua kemungkinan.
  1. Jika menambahkan ke kata dasar adjektif, biasanya menghasilkan adjektif yang menyatakan tingkat atau kondisi paling tinggi (ekstrim) atau superlatif. (misalnya: paling besar, paling tinggi, paling baru, paling murah)
  2. Jika menambahkan ke kata dasar yang bukan adjektif, umumnya menghasilkan verba yang menyatakan aspek perfektif, yaitu suatu perbuatan yang telah selesai dikerjakan. Afiks ini juga bisa menunjukkan perbuatan spontanitas, yaitu suatu perbuatan yang terjadi secara tiba-tiba atau tidak disengaja (misalnya aksi oleh pelaku yang tidak disebutkan, pelaku tidak mendapat perhatian atau tindakan natural). Fokus dalam kalimat adalah kondisi resultan tindakan itu dan tidak memfokuskan pada pelaku perbuatan atau bagaimana kondisi resultan itu tercapai.
  • se- : menambah prefiks ini dapat menghasilkan beberapa jenis kata. Prefiks ini sering dianggap sebagai pengganti
 

http://kliwon007.blogspot.com

penggunaan imbuhan

Kata dasar yang penulisannya sering kurang tepat ketika diberi imbuhan gabungan, antara lain naik, tunjuk, dan kata yang di belakangnya huruf /k/ . Misalnya, kata dasar naik mendapat imbuhan ke-an, ada yang menuliskannya [kenaikkan]. Padahal prefiks ke- tidak dapat bergabung dengan sufiks –kan. Prefiks ke- hanya dapat bergabung dengan sufiks -an dan dengan –i pada kata ketahui. Dengan demikian, penulisannya yang benar adalah kenaikan. Jika kata dasar itu diberi imbuhan gabungan me-kan, ada juga yang menulis [menaikan]. Prefiks me-tidak dapat bergabung dengan sufiks –an. Penulisannya yang benar adalah menaikkan. Kalau mendapat imbuhan di-kan menjadi dinaikkan. Begitu pula, kata naik yang mendapat akhiran –kan menjadi naikkan.

 

Fonologi

A.   Bunyi Ujaran

Bunyi ujaran yaitu unsure yang paling kecil dari pemotongan suatu arus ujaran atas bagian atau segmen.

Fungsi bunyi ujaran untuk membedakan arti itu disebut fonem. Jadi, fonem adalah kesatuan yang terkecil yang terjadi dari bunyi ujaran yang dapat membedakan arti.

B.    Fonetik dan Fonemik

Bagian-bagian dari tata bahasa meliputi: fonologi, morfologi dan sintaksis

Fonologi yaitu bagian dari tata bahasa yang mempelajari bunyi-bunyi bahasa pada umumnya dalam ilmu bahasa.

Fonologi dibagi atas dua bagian berikut:

1.     Fonetik yaitu ilmu yamg menyelidikidan menganalisa bunyi-bunyi ujaran yang dipakai dalam tutur, serta mempelajari cara menghasilkan bunyi-bunyi tersebut dengan alat ucap manusia.

2.    Fonemik yaitu ilmu yang mempelajari bunyi ujaran dalam fungsinya sebagai pembeda arti

Bunyi ujaran dihasilkan oleh berbagai macam  kombinasi dari berbagai macam alat ucap yang terdapat dalam tubuh manusia.

Bunyi ujaran dihasilkan oleh tiga alat ucap berikut:

1.     Udara             : yang dialirkan keluar dari paru-paru

2.    Articulator    : bagian dari alat ucap yang dapat digerakkan atau digeserkan untuk

menimbulkan suatu bunyi.

3.    Titik artikulasi          : bagian dari alat ucap yang menjadi tujuan sentuh dari articulator.

C.    Vokal

Vokal yaitu udara yang keluar dari paru-paru yang tidak mendapat halangan sedikit dan mendapat bunyi ujaran.

Vokal tidak tergantung dari kuat lembutnya udara, tetapi tergantung dari hal-hal berikut:

1

1.     Posisi bibir, yaitu bentuk bibir pada waktu mengucapkan suatu bunyi.

ü  Bila bundar terjadi vokal: o, u, a.

ü  Bila rata akan terjadi vokal: i, e.

2.    Tinggi rendahnya lidah, yaitu bagian rongga mulut yang amat elastis.

ü  Terjadi vokal depan; i, e.

ü  Terjadi vokal belakang: u,o,a.

ü  Bila lidah rata terjadi vokal pusat: e (pepet).

3.    Maju mundurnya lidah, yaitu jarak yang terjadi antara lidah dan alveolum.

ü  Terjadi vokal atas: i, e.

ü  Terjadi vokal tengah: e (pepet).

ü  Terjadi vokal bawah: a.

D.   Diftong

Diftong yaitu dua vokal berurutan yang diucapkan dalam satu waktu.

Contoh : ramai, pantai, dan lain- lain.

Dalam sehari- hari diftong yang diubah menjadi suatu bunyi tunggal (monoftong) disebut monoftongisasi.

Misalnya: pantai         pante

pulau           pulo

Sebaliknya, bunyi monoftong yang dapat berubah menjadi diftong disebut diftongisasi.

Misalnya: sentosa           sentausa

anggota          anggauta

E.    Konsonan

Konsonan yaitu bunyi ujaran yang terjadi karena udara yang keluar dari paru-paru mendapat halangan.

1.     Berdasarkan artikulator dan titik arkulasinya, konsonan dirinci atas bagian berikut:

a.    Konsonan bilabial yaitu bunyi yang dihasilkan dengan mempertemukan kedua buah bibir.

Contoh: p, b, m, w.

2

b.    Konsonan labio-dental yaitu bunyi yang dihasilkan dengan mempertemukan gigi atas sebagai titik artikulasi dan bibir bawah sebagai artikulatornya.

Contoh: f, v.

c.    Konsonan apiko-interdental yaitu bunyi yang terjadi dengan ujung lidah (apex) yang bertindak sebagai artikulator dan daerah antar gigi (dens) sebagai titik artikulasinya.

Contoh: t, n (bahasa Indonesia); t, d, n (bahasa Jawa).

d.    Konsonan apiko-arveorar yaitu bunyi yang dihasilkan oleh ujung lidah sebagai artikulator dan lengkung kaki gigi (alveolum) sebagai titik artikulatornya.

Contoh: d dan n (bahasa Indonesia);t, d, dan n (bahasa Jawa).

e.    Konsonan palatal yaitu bunyi yang dihasilkan oleh bagian tengah lidah sebagai artikulator dan langit-langit kertas (palatum) sebagai titik artikulasinya.

Contoh: c, j, ny.

f.    Konsonan velar yaitu bunyi yang dihasilkan oleh belakang lidah sebagai artikulator dan langit-langit lembut atau velum sebagai titik artikulasinya.

Contoh: k, g, ng, kh.

g.    Hamzah adalah bunyi yang dihasilkan dengan posisi pita suara tertutup sama sekali, sehingga menghalangi udara yang keluar dari paru-paru.

h.     Laringal yaitu bunyi yang terjadi karena pita suara yang terbuka lebar.

2.    Berdasarkan halangannya, konsonan dapat dirinci atas beberapa bagian berikut:

a.    Konsonan hambat yaitu konsonan yang terjadi karena udara yang keluar dari paru-paru sama sekali dihalangi.

Contoh: p, b, k, t, dan d.

b.    Frikatif adalah udara yang bila keluar dari paru-paru digesekkan akan terjadi bunyi.

Contoh: f, v, dank h.

c.    Spiran yaitu udara yang keluar dari paru-paru mendapat halangan berupa pengadukan.

Contoh: s, z, dan sy.

d.    Lekwida bunyi yang dihasilkan dengan mengangkat lidah ke langit-langit.

e.    Getar atau trill yaitu bunyi yang dihasilkan dengan mendekatkan lidah ke alveolum atau pangkal gigi.

3.    Berdasarkan turut tidaknya pita suara bergetar, konsonan dapat dirinci atas beberapa bagian berikut:

3

a.    Konsonan bersuara yaitu pita suara turut bergetar.

Contoh: b, d, n, g, dan w.

b.    Konsonan tak bersuara yaitu bila pita suara tidak bergetar.

Contoh: m, n, ny, dan ng.

4.    Berdasarkan jalannya, konsonan dapat dibedakan sebagai berikut:

a.    Konsonan oral yaitu udara keluar melalui rongga mulut.

Contoh: p, b, k, d, dan w.

b.    Konsonan nasal yaitu udara yang keluar melalui rongga hidung.

Contoh: m, n, ny, dan ng.

F.    Perubahan-perubahan Fonem

Perubahan yang penting dalam bahasa adalah sebagai berikut:

1.     Asimilasi

Asimilasi yaitu proses dua bunyi yang tidak sama disamakan atau dijadikan hamper bersamaan.

a.    Asimilasi berdasarkan tempat dari fonem dibagi atas:

1)    Asimilasi progresif yaitu bunyi yang diasimilasikan terletak sesudah bunyi yang mengasimilasikannya.

2)   Asimilasi regresif yaitu bunyi yang diasimilasikan mendahului bunyi yang mengasimilasikannya.

Contoh: in + moral menjadi inmoral          immoral

ad + simulation menjadi assimilasi           asimilasi

b.    Asimilasi berdasarkan sifat asimilasi itu sendiri dibagi atas:

1)    Asimilasi total yaitu dua fonem yang disamakandijadikan serupa betul.

Contoh: ad + salam menjadi assalam          asalam

2)   Asimilasi parsial yaitu dua fonem yang disamakan hanya disamakan sebagian saja.

Contoh: in + port menjadi import          impor

2.    Desimilasi

Desimilasi yaitu proses dua bunyi yang sama dijadikan tidak sama.

Contoh: lauk-lauk menjadi lauk pauk

sayur-sayur menjadi sayur-mayur

3.    Suara bakti

Suara bakti adalah bunyi yang timbul antara dua fonem dan mempunyai fungsi untuk melancarka ucapan suatu kata.

Contoh: gurauan terdengar timbul bunyi huruf w

Pakaian terdengar timbul bunyi huruf y

4

G.    Intonasi

Intonasi yaitu kerja sama antara tekanan, nada, tekanan waktu, dan perhentian-perhentian yang menyertai suatu tutur dari awal hingga perhentian akhir.

Macam-macam intonasi yaitu intonasi berita, intonasi pertanyaan, intonasi harapan, intonasi perintah, dan lain-lain. Intonasi tidak merupakan suatu gejala tunggal tetapi dari perpaduan bermacam-macam gejala yang lazim disebut tekanan, nada, dan perhentian.

1.     Macam-macam tekanan

Tekanan dibedakan menjadi tiga hal berikut:

a.    Tekanan dinamik yaitu tekanan keras yang diletakkan atas sebuah suku kata dan mempunyai fungsi untuk membedakan arti.

Contoh: r e f u s e = sampah

R e f u s e = menolak

b.    Tekanan tinggi atau nada

Terdapat empat kesatuan nada yang digambarkan dengan tanda-tanda yang menunjukkan: nada menurun, nada rata, nada menurun lalu naik, dan nada mendaki.

Contoh: k   u = kutu busuk

Kau  = kera

c.    Tekanan kuantitas yaitu tekanan yang terjadi karena suatu vokal yang lain.

Contoh: bhara = yang mengandung

Bhara  = muatan

2.    Tekanan dalam bahasa Indonesia

Secara terperinci, tekanan dalam bahasa Indonesia dibagi seperti berikut:

a.    Tekanan keras atau stress

Contoh: perumahan

Suku kata mah terdengar lebih keras dari bagian lain.

b.    Tekanan dinamik

Macam-macam tekanan dinamik:

1)    tekanan dinamik silabis yaitu tekanan dinamik yang terdapat dalam suatu kata serta diletakkan atas suatu suku kata yang berfungsi membedakan arti.

2)   Tekanan dinamik kata yaitu tekanan yang berfungsi untuk menekankan sepatah kata karena mendapat perhatian yang khusus.

c.    Nada

Nada dapat dibedakan menjadi dua:

1)    Nada rendah ialah nada yang dipergunakan seseorang dalam keadaan sedih.

5

2)   Nada tinggi ialah nada yang dipergunakan seseorang dalam keadaan marah.

d.    Tekanan waktu

Seseorang yang berada dalam ketakutan atau dalam keadaan tergesa-gesa akan bercakap dengan tergesa-gesa pula. Arus ujarannya dipaksakan mengambil waktu yang sesingkat-singkatnya. Sebaliknya, seseorang dalam keadaan tenang akan mengucapkan tuturnya itu dalam suatu jangka waktu yang cukup lama. Tekanan semacam ini yang diukur dengan jangka waktu disebut tekanan waktu. Sedangkan jangka waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu tutur disebut durasi.

3.    Perhentian

Suatu arus ujaran dapat dipotong-potong oleh perhentian-perhentian. Berikut ini beberapa macam perhentian.

a.    Perhentian sebentar

Perhentian ini menunjukkan bahwa tutur itu masih akan dilanjutkan. Adapula perhentian yang menyatakan suatu tutur atau bagian dari suatu tutur sudah mencapai kebulatan. Perhentian ini disebut perhentian antara, dilambangkan dengan tanda koma (,).

b.    Perhentian akhir

Perhentian ini dilambangkandengan tanda titik atau titik koma (. atau ;).

H.   Huruf

Huruf adalah lambang atau gambaran dari bunyi. Manusia mengenal empat macam system tulisan berikut:

1.     Tulisan piktograf: urusan beberapa gambar untuk melukiskan suatu peristiwa.

contoh: pada orang Indian Mexico.

2.    Ideograf atau logograf: suatu tanda atau lambing mewakili sepatah kata atau pengertian.

Contoh: obat Cina.

3.    Tulisan silabis:suatu tanda untuk menggambarkan suatu suku kata.

Contoh: tulisan Jepang, Dewa Negari.

4.    Tulisan fonemis:sat bunyi.u tanda untuk melambangkan satu bunyi.

Contoh: huruf Latin, Yunani, dan Jerman.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.